Melihat wanita yang dicintainya tidak mengenali dirinya, Lynx merasa gelisah. Ia mencari tempat duduk untuk merenung, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau.

"Sebaiknya aku kembali dan merencanakan langkah selanjutnya," pikir Lynx setelah merasa cukup beristirahat.

Dengan segera, ia menggunakan kekuatannya untuk melacak keberadaan Jelita. Begitu menemukan posisinya, Lynx bergegas menuju ke sana.

Sementara itu, beberapa saat sebelumnya, ketika Lynx meninggalkan Jelita, seorang pria mendekati Jelita yang tampak berjalan menuju tempat sepi sambil memegang selembar kertas. Kertas itu adalah kertas formasi yang ditinggalkan Lynx agar Jelita bisa menemukannya.

"Nona, maaf jika saya mengganggu. Pria yang bersamamu tadi memintaku menjemputmu," kata pria tersebut dengan nada sopan.

Jelita menyipitkan matanya, memandang kertas di tangannya yang bergerak menuju arah tertentu.

"Di mana dia?" tanya Jelita dengan waspada.

Pria itu menunjukkan arah yang berbeda dari yang ditunjukkan kertas, membuat Jelita curiga.

"Maaf, saya akan menunggunya di sini," jawab Jelita tegas.

Pria itu, khawatir pemuda yang bersama wanita itu datang, segera menunjukkan sifat aslinya. Dia mengeluarkan pisau berukuran sedang. "Jangan melawan. Cepat ikut kami," ancamnya.

Namun, Jelita yang sudah belajar kultivasi dan berada di ranah Forging Qi tingkat satu bergerak cepat. Dengan tekad bulat, ia menendang pria itu dengan kecepatan tinggi.

Pria itu, tidak menyangka dengan serangan cepat dan kuat Jelita, langsung pingsan. Perutnya terkena tendangan dan terlempar ke dinding.

Namun tiba-tiba, sebuah jarum mengenai leher Jelita, membuatnya lemas dan pingsan.

"Tidak kusangka dia bisa bela diri. Untung kita memiliki persiapan," ujar salah satu pria yang keluar dari persembunyiannya bersama tiga rekannya yang mengenakan penutup wajah. Mereka mendapatkan tugas dari tuan muda mereka untuk menculik wanita tersebut.

"Bawa dia," perintah pemimpin rombongan itu kepada rekannya yang lain, sambil menunjuk ke arah pria yang pingsan. Sementara itu, ia sendiri bersiap untuk menggendong tubuh Jelita yang tergeletak di tanah.

Namun, ketika pemimpin itu hendak mengangkat Jelita, tiba-tiba sebuah bayangan putih berkelebat dengan kecepatan luar biasa. Bayangan itu bergerak cepat dan gesit, hampir seperti angin yang berlalu, dan dalam sekejap, mengambil tubuh Jelita, membawanya pergi dengan cepat.

Pria yang hendak mengangkat rekannya langsung kebingungan. "Ke mana wanita itu pergi?" tanyanya dengan gugup, melihat sekeliling dengan cemas.

Mereka semua mencari di sekitar, tetapi Jelita dan bayangan putih itu sudah menghilang tanpa jejak.

"Aku melihat bayangan sekilas, mungkinkah ada seseorang yang menolongnya?" kata pria lain, kini semakin khawatir.

"Kita harus segera kembali dan melaporkan hal ini kepada tuan muda," kata pemimpin mereka dengan tegas, menyadari bahwa situasi ini tidak lagi berada dalam kendali mereka.

Tidak berapa lama, Lynx tiba di tempat di mana ia merasa seharusnya Jelita berada. Namun, yang ia temukan hanyalah sosok wanita tua sedang membungkuk, mengambil sesuatu dari tanah.

"Kertas itu?" batin Lynx, mengenali kertas formasi yang seharusnya dipegang Jelita. Segera ia mendekati wanita tua tersebut, mengamati sejenak untuk memastikan tidak ada yang mencurigakan.

"Maaf, apakah Anda melihat seorang wanita muda yang memegang kertas yang Anda pegang?" tanya Lynx dengan sopan, meskipun ada ketegangan dalam suaranya.

"Aku tidak melihatnya. Kertas ini baru saja kupungut. Apakah ini milikmu?" jawab wanita tua itu, sambil menyerahkan kertas tersebut kepada Lynx.

Lynx merasa panik. Ia menyadari telah meremehkan situasi. Sebelumnya, ia berpikir bahwa dengan kertas itu, keberadaan Jelita bisa selalu dilacak. Namun kenyataannya, ia kembali kehilangan jejaknya.

"Apa yang sebenarnya terjadi? Ke mana dia?" pikir Lynx dengan cemas, merasa situasinya semakin rumit.

Ia mencoba mengedarkan kekuatannya lagi, berusaha mendeteksi jejak Jelita. Sayangnya, ada banyak energi Forging Qi tingkat satu di sekitar tempat itu, membuatnya sulit membedakan mana yang milik Jelita. Ketidakpastian ini membuatnya merasa semakin tertekan dan bingung tentang langkah selanjutnya.

Sementara itu, di sebuah taman yang tenang dan terpencil, sosok bayangan bergerak dengan anggun, membawa tubuh Jelita yang tidak sadarkan diri. Bayangan itu meletakkannya dengan lembut di sebuah pondok sederhana yang ada di taman. Sosok tersebut adalah seorang wanita, mengenakan seragam dengan hiasan sulaman perak di bagian lengan dan bahu, memberikan kesan elegan sekaligus tangguh.

"Kamu beruntung. Jika aku tidak kebetulan lewat dan melihat apa yang terjadi, mungkin mereka sudah membawamu," bisik wanita itu lembut, menatap Jelita dengan perhatian. Ia memasukkan sebuah pil ke dalam mulut Jelita dan mentransferkan sedikit energi Qi-nya, berharap Jelita segera pulih.

Tak lama, Jelita mulai membuka matanya perlahan. "Di mana aku?" tanyanya bingung, mencoba memahami situasinya.

Kenangan akan kejadian sebelumnya segera membanjiri pikirannya: seorang pria berusaha memaksanya ikut, dan kemudian semuanya menjadi gelap. Panik, Jelita segera berdiri, memeriksa tubuh dan pakaiannya dengan cemas. Setelah memastikan semuanya masih utuh dan tidak ada yang berubah, ia merasa sedikit lega. Namun, rasa asing dari tempat itu membuatnya gelisah.

Segera, Jelita mencari kertas formasi yang diberikan Lynx, namun tidak menemukannya. Panik kembali menyergapnya. "Di mana aku? Xiao Ling, di mana kamu? Bagaimana aku bisa ada di sini?" suaranya menggambarkan kepanikan yang mendalam.

"Tenanglah, aku menyelamatkanmu dari tangan mereka. Kamu aman di sini," kata wanita yang menolongnya dengan suara menenangkan.

Jelita kaget, membalikkan badan, dan matanya membesar melihat sosok di depannya. Terkejut, ia tidak bisa menemukan kata-kata.

Melihat wanita yang ditolongnya sudah sadar, wanita itu tersenyum lembut. "Sepertinya kamu baik-baik saja. Aku harus segera pergi karena ada urusan penting. Berhati-hatilah," katanya. 

Lalu, dengan gerakan yang begitu anggun, ia menggeser kakinya sedikit ke belakang, dan dalam sekejap, tubuhnya melayang bak bulu yang tertiup angin. Ia melompat ke atas atap bangunan dengan lincah, setiap gerakannya tampak seperti tarian yang dipadukan dengan teknik meringankan tubuh yang sempurna. Bayangannya melayang sebentar di udara sebelum menghilang dengan kecepatan yang mengagumkan.

"Leena..." teriak Jelita, suaranya menggema tanpa jawab.

Setelah tersadar, Jelita berusaha memanggil wanita yang sudah menolongnya, namun sosok tersebut sudah menghilang tanpa jejak.

"Mungkinkah itu Leena? Kenapa dia seolah tidak mengenaliku? Tapi jika memang itu dia, aku baru tahu jika dia memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan Xiao Ling," bisik Jelita, berbicara pada dirinya sendiri, masih terkejut dengan pengalaman yang baru saja dialaminya. Perasaan bingung dan penasaran bercampur menjadi satu dalam benaknya.

Jelita duduk sejenak, mencoba mengingat-ingat segala sesuatu yang terjadi selama di pulau. Kenangan masa lalu mengalir seperti sungai, mengingatkannya pada Leena yang sering berlatih bela diri bersama Lala dan kakeknya. Leena dikenal di kalangan warga desa sebagai pejuang wanita yang tangguh, kemampuannya bahkan melebihi banyak pria di desa itu. Ia ingat cerita-cerita tentang Leena yang mampu mengalahkan Banu, salah satu sosok terkenal kuat yang disegani di desa mereka.

Jelita, di sisi lain, lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah, menyembunyikan diri karena luka di wajahnya. Ia mengabdikan diri membantu Tetua Drona membuat ramuan dan mengobati penduduk Surya, menjadi asisten yang andal dalam urusan kesehatan.

"Aku harus memberi tahu Xiao Ling tentang hal ini," pikir Jelita, mencoba untuk tetap bersemangat meski hatinya terasa berat. Ada kesedihan yang sulit diabaikan; perasaan yang telah lama ia simpan terhadap Lynx, sejak mereka berada di pulau. Namun, ia tahu bahwa di hati Lynx hanya ada Leena, meskipun Lynx telah kehilangan ingatannya.

Rasa sakit di hatinya kembali muncul, mengingat kemesraan antara Lynx dan Leena. Sementara itu, ketika Lynx kehilangan ingatan, Jelita memiliki kesempatan untuk dekat dengannya, tetapi Lynx tetap menjaga jarak. Bahkan ketika Jelita mencoba mendekat dan menyerahkan segalanya, Lynx menolak, tidak mampu bersikap mesra.

Jelita menghembuskan napas panjang. "Bagaimanapun, aku harus membantu kepala suku. Leena memang lebih pantas bersamanya daripada bersama yang lain," bisiknya dalam hati, mencoba untuk menerima kenyataan dan melangkah maju.

Namun, ia kembali dihadapkan pada realitas situasinya. "Bagaimana ini? Aku tidak tahu di mana aku berada dan bagaimana cara menemukan kepala suku. Kota ini sangat luas," pikirnya, merasa bingung dan sedikit putus asa.

